Refleksi Hari Buku dari Mantan Kutu Buku

23 April diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Berdasarkan penjelasan di situs PBB, tanggal ini dipilih karena merupakan tanggal yang bersejarah bagi kesusastraan dunia. Pada tanggal ini penulis Cervantes, Shakespeare, dan Inca Garcilaso de la Vega meninggal dunia. Tanggal ini juga menandai kelahiran dan kematian penulis terkemuka lainnya, seperti Maurice Druon, Haldor K. Laxness, Vladimir Nabokov, Josep Pla dan Manuel Mejía Vallejo. Dengan pertimbangan tersebut, UNESCO mencanangkan 23 April sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia untuk memberikan penghormatan kepada para penulis dan buku-buku, mendorong semua orang, khususnya generasi muda, untuk menemukan kenikmatan membaca dan memperbaharui rasa hormat kepada orang-orang yang telah memberikan kontribusi untuk memajukan kemanusiaan dari sisi sosial dan budaya.

Buku memang memberikan peranan penting bagi kemajuan suatu bangsa, tak terkecuali Indonesia. 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, sosok pejuang emansipasi wanita di masa kolonialisme. Pahlawan perempuan ini juga sangat gemar membaca dan mencintai buku, itulah gambaran sosok Kartini yang saya lihat dalam film Kartini (2016) yang diperankan aktris Dian Sastrowardoyo besutan sutradara Hanung Bramantyo. "Wacanen!" itulah dialog yang paling saya ingat dalam film tersebut yang berarti "Bacalah!" Frasa itu diucapkan Kartini saat mendorong minat baca kedua adiknya yang sedang dipingit bersamanya. Kisah perjuangan Kartini ini merupakan salah satu contoh nyata pentingnya membaca buku untuk menciptakan suatu kemajuan.


Bicara tentang buku, mengingatkan saya pada masa sekolah saat saya masih menggandrungi hobi membaca. Tak jarang pula orang mencap saya kutu buku. Namun, hobi tersebut perlahan pudar selepas SMA tatkala Internet mulai meraja. Minat baca pun menurun karena lebih banyak dimanjakan dengan konten audio visual. Buku yang dibaca pun sebatas buku-buku teks perkuliahan, itu pun karena memang diharuskan untuk belajar setiap menghadapi ujian.

Lalu, perlukah mengembalikan minat membaca saya yang mulai terkikis era digital? Tentu perlu. Karena membaca buku memberikan banyak manfaat, antara lain menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan atau skill, melatih kemampuan berpikir, dan menjadi kegiatan rekreasi di waktu senggang. Oleh karenanya, sejak tahun lalu saya kerap memasang target jumlah buku yang dibaca selama setahun sebagai tantangan membaca di Goodreads (jejaring sosial pecinta buku). Meskipun pencapaiannya, masih jauh panggang dari api.

Pada dasarnya, era digital juga dapat membantu meningkatkan minat baca melalui format buku elektronik atau e-book yang bisa diunduh secara bebas maupun berbayar di Internet. Beragam buku edisi cetak pun mulai bermunculan dalam format e-book dengan harga yang lebih murah di Play Store. Akan tetapi, bagi sebagian orang, kenikmatan membuka buku baru dan membalik lembar per lembar kertas tidak akan tergantikan. Sebagai mantan kutu buku, saya pun setuju akan hal itu. Namun, di sisi lain, membaca buku versi digital lebih praktis dan efisien karena dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja tanpa harus membawa-bawa buku nan tebal. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak membaca selama ponsel ada dalam genggaman.

Tahun ini semangat membaca kembali saya tanamkan dalam diri dengan menargetkan membaca 60 buku selama tahun 2018. Hingga saat ini, saya telah membaca 12 buku, suatu awal yang bagus. Terima kasih kepada aplikasi iPusnas yang memudahkan saya untuk mengakses buku-buku koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia secara digital. Kunjungan saya ke Big Bad Wolf Book Sale Jakarta kemarin pun kembali menambahkan buku-buku baru ke daftar bacaan saya. Maka dari itu, saya bisa optimis bisa meningkatkan minat baca saya yang mulai pudar dan menaklukkan tantangan membaca buku tahun ini!

No comments