Sajak Lembur

Kerja harus diatur
Asal semangat tak luntur
Jangan sampai kepalang lembur
Mungkin sudah nasib diatur-atur

Lembur, oh lembur
Nasi sudah menjadi bubur
Tak dapat mengelak dari lembur
Jikalau pekerjaan tak lagi teratur

Seperti apa itu lembur
Tak ubahnya menggali sumur
Atau menggali kubur
Tak semudah menangkap ubur-ubur

Lembur, oh lembur
Sungguh tidak bisa kabur
Dari kewajiban yang telah membaur
Tak boleh kah jika diulur?

Memang harus lembur
Jangan seperti bocah tercebur
Lupa diri lalu kabur
Jangan lupakan tugas di tutur

Perintah untuk lembur
Memang tak ubahnya seperti guntur
Buat pikiran menjadi futur
Harapan rehat pun menjadi hancur

Manusia bukanlah lemur
Sekali-kali memanglah harus lembur
Walaupun benak menghitam bagai semur
Semua tugas harus didaur

Ingin rasa hati mendengar ombak berdebur
Namun hasrat harus dikubur
Lagi-lagi harus lembur
Jangan sampai terus begini sampai raga dikubur

Ingin rasanya vakansi di Batur
Sambil bersantai dibalur lulur
Namun lagi-lagi harus lembur
Bos, kapan saya bisa libur?


(Sebelumnya dipublikasikan di Kompasiana)

No comments