Merbabu, Bentang Hijau Gunung Abu

Sulit rasanya mengeluarkan Merbabu dari bucket list pendakian di Pulau Jawa. Gunung yang namanya berasal dari kata "meru" (gunung) dan "abu" (abu) ini memang memiliki pemandangan alam yang begitu menawan dan menarik minat banyak pendaki, tak terkecuali saya. Meskipun masih newbie di dunia pendakian, tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan begitu ada ajakan kawan untuk mendaki gunung yang terletak di Provinsi Jawa Tengah ini pada April 2016 lalu. Pendakian ini sekaligus merupakan pengalaman saya mendaki gunung di luar Jawa Barat.

Keindahan bentang alam Gunung Merbabu yang hijau memesona.
Berbeda dari pendakian sebelumnya, kali ini saya mengikuti open trip yang diselenggarakan oleh toko peralatan outdoor, yang dimotori Tebu Outdoor. Perjalanan ini lebih mirip share cost sebenarnya karena harganya sangat ekonomis, selain itu ada door prize yang dibagikan di akhir acara. Pendakian ini diadakan pada saat long weekend, tak heran jika banyak pendaki yang turut serta. Ada lebih dari 30 orang, mungkin inilah pendakian paling ramai yang pernah saya ikuti.

Kamis malam, saya bersama Mada dan Derry  meluncur menuju Bekasi yang menjadi titik berkumpul. Sampai di Stasiun Bekasi, kami dijemput menuju Tebu Outdoor. Di sana, sudah banyak peserta pendakian yang berkumpul. Kami pun menunggu bus yang akan membawa kami ke basecamp Merbabu. Sekitar pukul 11 malam, bus datang kami pun mulai terlelap di perjalanan.

Akhir pekan panjang membuat waktu tempuh menjadi molor. Menjelang magrib kami belum juga tiba di basecamp pendakian. Malahan ada sedikit musibah yang terjadi saat itu. Alih-alih mulai melakukan pendakian Merbabu, rombongan terpaksa berjalan menanjak karena bus yang kami tumpangi mengalami gangguan. Mogoknya bus itu membuat perjalanan kami terhambat dan kami pun singgah sejenak di kampung yang kami lewati sambil mengisi perut dan menumpang bersembahyang.

Lepas waktu magrib, panitia menyediakan mobil pick up untuk membawa kami ke basecamp sebagai contingency plan. Kami pun bersemangat ingin cepat-cepat sampai basecamp. Pengalaman naik mobil bak terbuka ini menambah keseruan perjalanan ini. Apalagi ketika hujan gerimis di tengah jalan membuat kami buru-buru memasang terpal untuk berlindung.

Menjelang pukul 20.00, kami telah tiba di basecamp pendakian Merbabu via Wekas. Kami dipersilakan untuk mandi dan makan malam terlebih dahulu sebelum memulai pendakian malam itu. Sekitar pukul 21.00, rombongan berkumpul, diberi arahan singkat, lalu berdoa bersama untuk kemudian mulai mendaki. 

Hujan gerimis menemani pendakian kami malam itu sehingga kami mengenakan jaket gunung berlapis jas hujan. Perjalanan dari basecamp ke Pos 1 melewati perkampungan dan ladang penduduk dengan trek menanjak namun relatif mudah karena sudah berlapis aspal dan batuan. Tak lama hujan gerimis mulai mereda, kami yang kegerahan dalam balutan jas hujan ingin segera melepasnya. Untuk itu, rombongan singgah sejenak di sebuah situs makam yang membuat sebagian peserta gemetar.

Perjalanan terus berlanjut. Keberadaan Pos 1 tidak begitu jelas, kami terus mendaki ke Pos 2. Jalur yang kami tempuh semakin curam, namun sesekali masih ada bonus dataran landai. Tak jarang pula kami beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga. Suasana pendakian yang gelap membuat kami tidak memiliki gambaran sejauh mana lagi jalur yang harus ditempuh. Belum lagi, tanah yang basah rawan menyebabkan kaki terpleset.

Dua jam lewat tengah malam, di tengah hujan gerimis, akhirnya kami bisa sedikit bernafas lega karena sebentar lagi tiba di Pos 2 tempat kami akan mendirikan tenda dan beristirahat. Nampak pemandu yang telah tiba duluan menyambut kami lalu menunjukkan lokasi untuk berkemah. Lalu, kami pun berteduh di bawah terpal yang sudah dipasang sambil menunggu tenda kami didirikan. Setelah tenda berdiri, kami terlelap dalam lelah. 

Matahari mulai meninggi, tatkala kami terbangun pagi itu. Rencana summit yang awalnya direncanakan pagi-pagi sekali sepertinya ditunda. Maklum saja, para peserta sudah sangat kelelahan setelah perjalanan panjang Bekasi - Magelang dan pendakian ke Pos 2 semalam. Tidur 2-3 jam saja tentu tidak cukup. Pendakian ke puncak pun dijadwalkan lebih siang sekitar pukul 9 pagi.

Pemandangan nan indah di sekeliling Pos 2 dengan kabut dan air terjun di lereng gunung.
Sambil menunggu waktu summit, saya berjalan-jalan menikmati pemandangan di sekeliling Pos 2 yang begitu indah dan hijau. Nampak pula ranting dan batang pohon yang kering dan menghitam (bekas kebakaran beneran waktu lalu), namun semua itu tidak mengurangi keindahan alam Gunung Merbabu. Salah satu yang paling memesona adalah tebing hijau dengan air terjun di lerengnya. Kabut pegunungan pun turut memberikan nuansa magis pagi itu.

Indahnya langit biru di Pos 3.
Waktu summit tiba, kami bergegas mendaki lagi menembus semak-semak menuju Pos 3. Setelah Pos 3 berhasil dipijak, kami sempat optimis kalau puncak tidak jauh lagi akan tercapai. Namun kenyataannya tidak, kami terus mendaki naik turun melewati Persimpangan Pemancar, Kawah Merbabu, hingga tiba di persimpangan Puncak Syarif dan Puncak Kenteng Songo.

Mengabadikan momen di Pos 3.
Matahari yang semakin terik membuat tidak semua pendaki berhasrat untuk melanjutkan ke Puncak Kenteng Songo. Namun, saya beserta teman sependakian kala itu, Derry, Mada, dan Teteh terus melanjutkan ke Puncak Kenteng Songo yang kami yakini sebagai puncak tertinggi di Gunung Merbabu. Dengan semangat membara kami pun terus melaju.

Hamparan sabana nan hijau mendominasi perjalanan mendekati Puncak Kenteng Songo.
Mendekati Puncak Kenteng Songo, hamparan sabana nan hijau memanjakan mata kami untuk seberapa saat. Tak lama kemudian nyali kami diuji, Jembatan Setan menghadang kami. Titian yang sangat minim itu harus kami lalui untuk bisa mencapai puncak. Untungnya, ada alat bantu berupa tali tambang.

Salah satu rintangan yang harus dilalui untuk mencapai Puncak Kenteng Songo adalah Jembatan Setan.
Kami berempat akhirnya bisa melalui rintangan itu dan menjejakkan kaki di Puncak Kenteng Songo. Gunung Merapi terlihat jelas dari sini. Terkadang awan-awan putih turut mewarnai langit hari yang cerah itu. Tanpa disengaja, di Puncak Kenteng Songo ada sosok familiar menyapa saya. Dia adalah Chibi, teman kuliah yang juga mendaki Gunung Merbabu tetapi menempuh jalur lain.
 
Berhasil summit di Puncak Kenteng Songo.
Belum puas muncak, Mada dan saya kembali mendaki ke Puncak Syarif karena kami lihat ada rombongan kami yang mendaki ke sana. Sementara Derry dan Teteh merasa sudah cukup puas dan memutuskan turun kembali ke tenda. Hari memang semakin panas, saya pun tidak berlama-lama di Puncak Syarif lalu memutuskan segera turun kembali ke Pos 2.

Mendaki Puncak Syarif yang lebih rendah dari Puncak Kenteng Songo.
Singkat cerita, sekitar pukul 2-3 sore kami sudah kembali ke Pos 2 untuk memasak makan siang kami yang tertunda. Ternyata Derry jago memasak, dengan telaten ia pun menyiapkan makan siang.
Derry, sang koki gunung.
Setelah kami semua selesai makan dan beristirahat, kami mulai packing untuk turun kembali ke basecamp. Kala senja menyapa, kami mulai berjalan turun. Kami pun kembali menembus jalur itu dalam gelap gulita dan rintik-rintik gerimis. Perjalanan turun terasa lebih cepat. Setibanya di basecamp kami membersihkan diri dan menginap untuk satu malam.
Makan siang yang tertunda a la Chef Derry.
Keesokan paginya, mobil pick up kembali menjemput kami, mengantarkan kami ke tempat bus yang akan membawa kami ke tujuan berikutnya, yaitu rafting di Sungai Elo. Aktivitas arung jeram ini menjadi penutup perjalanan kami di Magelang. Rasanya begitu menyegarkan setelah kemarin berpanas-panasan di atas Gunung Merbabu.

Suasana pagi hari di Wekas, dekat basecamp tempat kami menginap.

No comments