Mari Bersajak Meski Bukan Pujangga

Selamat Hari Puisi Sedunia!


Mungkin tidak banyak yang tahu jika tanggal 21 Maret diperingati sebagai World Poetry Day alias Hari Puisi Sedunia dan saya salah satu di antara yang baru tahu tentang hari yang dicanangkan UNESCO sejak tahun 1999 ini. Adapun tujuan utama peringatan ini adalah guna menyokong keberagaman linguistik melalui ekspresi puitis dan memberi kesempatan kepada bahasa-bahasa yang terancam punah untuk dapat didengar kembali di tengah-tengah masyarakat. 

Suatu kebetulan, saya baru tahu akan peringatan ini di saat saya sedang gemar menulis puisi belakangan ini. Beberapa puisi saya sudah dipublikasikan di blog ini dan sebelumnya pernah dipublikasikan via rubrik Fiksiana di Kompasiana. Puisi-puisi tersebut antara lain Balada Seorang Penglaju, Igauan Siang, Balada Insomnia, Marahkah Kau Padaku? dan Sajak Lembur.

Puisi yang saya tulis sebagian besar terinspirasi dari kehidupan sehari-hari. Sebenarnya berawal dari iseng-iseng saja untuk menghilangkan kepenatan, saya coba curahkan kegundahan dengan menulis puisi. Meskipun demikian, perlu dimaklumi jikalau puisi saya jauh dari kata puitis dan cenderung apa adanya karena saya sendiri bukanlah seorang pujangga yang pandai merangkai kata seindah-indahnya.

Bagi yang belum sempat membaca puisi karya saya, berikut ini cuplikan dari kelima puisi itu beserta makna di balik penciptaannya:

Balada Seorang Penglaju

Lelah ku rasakan

Kantuk coba 'tuk ku tahan

Pejam mata ini

Sekali lagi

Harapanku pagi itu
Puisi ini menggambarkan keluh kesah seorang penglaju (commuter) yang dalam rutinitasnya harus menempuh perjalanan cukup jauh ke tempat ia bekerja. Seringkali ia berangkat dalam keadaan masih mengantuk. Namun, pada akhirnya ia sadar bahwa semua itu harus tempuh demi menjalaninya pekerjaannya. 

Igauan Siang

Tersadarlah dari lamunan

Semuanya adalah kewajiban

Enggan ku terbuai kantuk

Ku tak ingin jalanku terantuk
Puisi ini bisa dibilang sebagai kelanjutan dari Balada Seorang Penglaju. Kisah yang disampaikan masih sama, tentang seorang pekerja, namun mengambil latar ruang kantor di siang hari. Pekerja dalam puisi ini dikisahkan kembali merasakan kegundahan, tetapi pada akhirnya ia sadar akan tugas dan tanggung jawab yang harus diemban.

Balada Insomnia

Hasrat 'tuk terlelap jadi sirna

Sementara raga mulai renta

Sudah tak sanggup 'tuk bekerja

Waktu rehat tak bisa lagi ditunda

Bingung harus bagaimana?
Seperti judulnya, puisi mengambil tema kegelisahan seseorang yang sulit untuk terlelap. Unsur pekerja dalam masih sempat diselipkan, meskipun tidak begitu dominan. Sepertinya keunikan tema yang diangkat puisi ini telah menjadikan puisi ini meraih "Pilihan" di Kompasiana.

Marahkah Kau Padaku?

Ego dan gengsimu meraja

Rasa sakit dan sedih kau anggap ada

Semua tak lagi sama

Tidakkah aku salah

Tak sepatutnya kau marah
Berbeda dengan ketiga puisi sebelumnya, kali ini problematika pekerja tidak menjadi tema utama. Puisi ini lebih menyoroti dramatisasi konflik dan kesalahpahaman yang terjadi di antara dua orang yang berselisih. 

Sajak Lembur

Seperti apa itu lembur

Tak ubahnya menggali sumur

Atau menggali kubur

Tak semudah menangkap ubur-ubur
Tema keluh kesah pekerja yang selalu lembur menjadi tema utama dalam puisi ini. Walaupun begitu, penyampaian pesan dibuat lebih jenaka dengan akhiran kata-kata dengan bunyi yang sama layaknya kumpulan pantun.

Tak ada salahnya memang menuliskan perasaan, angan, atau sekadar khayalan dalam bentuk karya. Hal ini akan lebih berfaedah ketimbang hanya dituliskan sebagai kicauan atau status di media. Tak perlu menuliskan kata-kata yang serba puitis sebab kejujuran dalam sebuah karya akan menjadikan karya itu lebih bermakna. Oleh karena itu, mari bersajak meski bukan pujangga. (Gambar ilustrasi dari UNESCO)

No comments