Dangdut dan Menjadi 'Anti-Mainstream'

Entah mengapa saya memiliki kecenderungan untuk berani menyukai hal atau memiliki pilihan yang berbeda dibandingkan orang kebanyakan. Dengan kata lain, saya kerap kali bersikap anti-mainstream di kala banyak orang yang terhanyut arus tren yang sedang populer atau banyak digemari, khususnya dalam menikmati musik.

Penampilan off-air penyanyi dangdut Ayu Ting Ting.
Musik adalah bagian yang tak terpisahkan dalam diri saya. Meskipun saya bukanlah seorang penyanyi bersuara merdu atau musisi handal yang pandai meramu nada, saya amat sangat menyukai musik. Dibesarkan di daerah kampung, membuat saya sudah akrab dengan musik dangdut yang kala itu identik dengan kalangan menengah ke bawah. Meskipun demikian, saya juga menyukai musik mainstream pop dalam dan luar negeri yang lebih universal dan dinikmati semua kalangan. 

Saya merasa menyukai musik baik mainstream ataupun non-mainstream adalah hal yang sah-sah saja. Akan tetapi, begitu menginjak bangku kuliah pilihan untuk menyukai musik non-mainstream mendapat tantangan dari pergaulan sekitar. Kala itu saya berkuliah di fakultas yang dipandang elite. Musik jazz yang identik dengan kalangan atas menjadi atau seakan-akan menjadi mainstream karena setiap tahunnya BEM fakultas menghelat festival jazz kampus. 

Adalah hal yang kurang lazim di sana apabila ada mahasiswa yang malah menyukai musik dangdut. Namun, saya tidak malu mengakui bahwa saya menyukai dangdut dan dinilai anti-mainstream di kampus. Melihat fakta tersebut,  saya malah merasa miris dan timbul concern untuk dapat memberikan pencerahan khazanah musik dangdut kepada rekan-rekan mahasiswa. 

Kesempatan pun tiba tatkala di salah satu mata kuliah saya beserta kelompok diberi tugas untuk menyiapkan materi bertemakan multikulturalisme. Hanya satu topik yang terbersit dalam benak saya saat itu, tak lain dan bukan yaitu musik dangdut. Mengapa? Karena musik dangdut merupakan suatu karya seni asli Indonesia yang sebenarnya buah akulturasi dari beberapa budaya yang berbeda, antara lain Melayu, Arab, dan India. Belakangan musik dangdut pun diperkaya dengan elemen tradisional, seperti campursari, tarling, dan lain-lain. 

Topik itu pun berhasil disepakati seluruh anggota kelompok dan kami mempersiapkan materi presentasi tersebut. Saya sangat bersemangat. Tanpa dinyana, banyak fakta baru tentang musik dangdut yang membuat saya terkagum. Salah satunya adalah tentang popularitas musik ini beberapa dekade silam yang merambah hingga ke layar lebar. Selain itu, banyak pula universitas luar, khususnya di Amerika Serikat yang melakukan studi dan kuliah tentang musik dangdut. Tak mengherankan jika beberapa penyanyi dangdut sering diundang memberikan kuliah di sana. 

Akan tetapi, ada sisi miris dari perkembangan musik dangdut kala itu (2008) karena produksi karya musik dangdut tidak lagi semarak dulu. Belum lagi muncul stigma negatif yang mengitari musik dangdut yang diidentikam dengan aksi panggung yang erotis. Tak dipungkiri memang banyak artis dangdut daerah yang tampil berani di atas panggung. Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan pesan bagi generasi muda Indonesia untuk turut serta melestarikan dan memajukan musik dangdut, setidaknya dengan memberikan apresiasi dan tidak lagi memandangnya sebelah mata. 

Suatu kenekadan saya menyampaikan pesan terkait musik yang dianggap anti-mainstream bagi sebagian besar mahasiswa itu. Sebagian memandangnya aneh, namun tak sedikit pula yang mulai mengakui kalau sebenernya mereka juga menyukai dangdut. Tak jarang saya curi-curi kesempatan bernyanyi di kelas bersama teman saya yang sama-sama suka dangdut. Dua di antaranya adalah Rio dan Nisa.

Sekitar dua tahun kemudian di kampus kami diselenggarakan lomba menyanyi dangdut tingkat universitas. Dengan semangat, saya dan partner organisasi saya kala itu, Minda mengikuti audisi untuk mewakili fakultas di kontes ini. Tak lupa, saya pun menyarankan Rio dan Nisa untuk ikut seleksi ini. Hasilnya tidak begitu menyenangkan bagi saya. Wajar saja karena saya tidak memiliki bakat menyanyi. Namun, yang menggembirakan Rio dan Nisa terpilih mewakili fakultas dan berhasil menjadi salah satu juaranya. 

Momen anti-mainstream lainnya dengan musik dangdut adalah ketika saya mewakili sebuah organisasi mahasiswa di lomba karaoke dies natalis fakultas. Entah mengapa saya yang dipilih, namun karena tujuannya hanya untuk bersenang-senang saya pun ikut saja. Pilihan lagu yang kami nyanyikan adalah Kopi Dangdut. Salah satu lagu dangdut yang sangat populer, namun saya sendiri tidak terlalu suka menyanyikannya. Dengan latihan koreografi singkat beserta pilihan lagu ini anti-mainstream, kami pun berhasil melaju ke babak final. Menjadi anti-mainstream ternyata menguntungkan juga agar dapat perhatian lebih dari juri serta tampil lebih menghibur. 

Lewat tulisan ini saya sekadar berbagi pengalaman saya menjadi anti-mainstream dengan musik dangdut. Sebenarnya saya tidak sepenuhnya kepada anti-mainstream  karena saya masih menyukai lagu-lagu Top 40 yang tergolong mainstream. Pesan saya, janganlah memandang rendah perbedaan selera orang yang terkadang anti-mainstream. Jangan pula merasa malu dan minder  mengakui sesuatu yang kita sukai hanya karena hal tersebut anti-mainstream

No comments