Bromo, Panorama Alam yang Menakjubkan

Bromo adalah salah satu gunung yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Keindahan alamnya, khususnya pada saat matahari terbit, telah menarik banyak pelancong berdatangan ke sana, dari wisatawan lokal hingga mancanegara. Kesempatan untuk menikmati panorama alam Gunung Bromo itu pun menghampiri saya Agustus 2016 lalu.

Pagi hari di Bromo.
Jika berkunjung ke Malang, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati wisata alam Gunung Bromo. Meskipun lokasinya relatif jauh, jangan khawatir karena banyak penyelenggara tur Bromo yang siap menjemput wisatawan dari Alun-Alun Kota Malang. Harganya pun bervariasi, rata-rata sekitar Rp 350 ribu per orang. Tarif bisa lebih murah lagi jikalau pergi dalam rombongan besar dan memesan dari jauh-jauh hari. 

Informasi tur Bromo dapat dengan mudah diperoleh dari media sosial, seperti Instagram, forum, atau marketplace jasa perjalanan. Ada dua opsi untuk mengikuti tur ini, yaitu private trip atau open trip. Bagi yang tidak pergi dengan rombongan, jangan bingung karena masih bisa ikut tur Bromo lewat open trip. Lumayan bisa sekalian tambah teman baru juga.

Tur Bromo dimulai sekitar pukul 01.00 dini hari. Pihak tur akan mengirimkan jemputan berupa mobil jeep yang akan membawa para traveler ke TNBTS untuk kemudian mengeksplorasi keindahan alam Gunung Bromo. Tur ini dimulai pagi-pagi sekali agar wisatawan dapat menikmati keindahan sunrise berlatarkan pemandangan Gunung Bromo yang memesona. Sangat disarankan untuk pergi ke sana pada musim kemarau karena di musim hujan sering muncul kabut yang menganggu pemandangan pada saat matahari terbit.

Saat itu, perjalanan saya menuju TNBTS dengan menggunakan jeep dari Malang berjalan lancar sehingga bisa dimanfaatkan untuk melanjutkan tidur. Akan tetapi, begitu memasuki kawasan taman nasional yang berbukit-bukit, perjalanan akan sedikit menyiksa akibat pergerakam mobil yang terkadang menimbulkan guncangan saat ada tanjakan dan tikungan tajam.
Sampai di Bukit Penanjakan, banyak warung kopi dan cinderamata yang bisa dijadikan tempat beristirahat sejenak sambil menunggu fajar menyingsing. Mendekati pukul 05.00, sudah banyak wisatawan yang mendaki Bukit Penanjakan dan berkumpul di tempat yang disediakan untuk melihat matahari terbit. Bentuknya mirip amphitheater sehingga pengunjung bisa duduk anteng menantikan waktu sunrise tiba.

Ketika mentari mulai menampakkan diri sedikit demi sedikit, ego para wisatawan tak tertahan lagi. Mereka tak dapat lagi duduk tenang dan mulai mencari titik pengamatan masing-masing di pinggir pagar lokasi pengamatan. Tak sedikit pula yang turun ke dinding bukit untuk mendapatkan suasana pengamatan yang lebih alami. Saya pun tak ingin ketinggalan bergegas ke sisi pinggir untuk mendapatkan pemandangan yang lebih jelas. 

Pemandangan matahari terbit berlatar panorama alam Gunung Bromo memang sangat menakjubkan. Ini merupakan sunrise terindah yang pernah saya saksikan. Tatkala matahari semakin meninggi, perlahan kabut putih yang menutupi sebagian kawasan taman nasional menyingsing perlahan. Nuansa kabut di pagi itu memberikan sensasi tersendiri yang membuat kita seakan berada di suatu negeri di atas awan.

Menyaksikan sunrise di Bromo dari Bukit Penanjakan.
Pemandangan Gunung Bromo dengan letupannya, Gunung Batok dengan guratan khasnya, serta padang pasir dan sabana yang masih diselimuti kabut putih membuat mata enggan berkedip. Perlahan kabut pun terbuka, menciptakan suasana magis yang menawan. Nampak pula gunung tertinggi di Pulau Jawa, Puncak Mahameru berdiri di kejauhan dengan gagahnya. Sungguh keindahan alam Indonesia yang tidak ada duanya. Sungguh beruntung saya dapat menikmati semua keindahan ini. Tidak heran jikalau banyak wisatawan mancanegara juga yang terkagum-kagum dibuatnya. 

Begitu hari mulai terang, para wisatawan mulai menuruni Bukit Penanjakan untuk melanjutkan tur ke Gunung Bromo. Demikian pula dengan saya yang menyempatkan mampir sejenak membeli cinderamata sebagai oleh-oleh. 

Bromo tak ubahnya negeri di atas awan.
Kembali menumpangi jeep, pemandu tur mengajak kami ke titik pengamatan Gunung Bromo dari sisi yang berbeda. Lokasi ini tidak seramai Bukit Penanjakan karena belum banyak orang yang tahu. Namun, pemandangannya tidak kalah menakjubkan. Latar pemandangan Gunung Bromo berhiaskan gumpalan letupan vulkanik dan kabut memberikan sensasi seperti sedang berada di atas langit. Luar biasa, memesona, dan indah panorama yang tersaji di depan mata.

Gumpalan letupan vulkanik dan kabut Bromo membalut pemandangan pagi itu.
Usai puas mengamati dari kejauhan, rombongan pun diajak mengeksplorasi keindahan Gunung Bromo dari dekat. Jeep melaju di atas tanah berpasir halus dengan dikelilingi tebing nan hijau. Sebuah pemandangan yang jarang ditemui di Indonesia. Tidak kalah dengan pegunungan di Eropa.

Menikmati pemandangan Bromo dari atas jeep.
Tiba di titik awal pendakian ke Puncak Bromo, pengunjung diberi dua opsi, berjalan kaki atau menunggangi kuda dengan biaya sewa yang lumayan (sekitar Rp 100 ribu). Karena sudah biasa hiking, tentu saya lebih memilih berjalan kaki. Namun, ternyata perjalanan ke puncak ternyata begitu "menantang". Bukan karena treknya yang curam, melainkan karena bau menyengat dari 'ranjau' yang dibuang kuda-kuda tunggangan itu.

Tangga menuju Puncak Bromo.
Tidak seperti gunung pada umumnya, pendakian Gunung Bromo sudah difasilitasi dengan anak tangga sehingga siapapun bisa menaikinya. Namun, tetap harus berhati-hati jangan sampai terpleset. Agak ngeri dan memalukan jikalau sampai jatuh terpleset. 

Berpose sebelum mendaki Puncak Bromo dengan latar Gunung Batok.
Satu per satu anak tangga berhasil di daki dan saya pun berhasil mencapai puncak. Kawah Bromo yang besar dengan suaranya yang menyeramkan tidak menciutkan nyali penduduk lokal yang beratraksi merayapi dinding kawah. Saya pun terpaku sejenak melihatnya. Suatu aksi yang mengerikan kalau-kalau sampai terjatuh ke mulut kawah.

Kawah Bromo dilihat dari puncak.
Puncak Gunung Bromo dataran tidak cukup luas, hanya seperti jalan setapak yang maksimal dapat dilewati dua orang. Tantangan sendiri bagi orang yang punya fobia ketinggian. Apalagi melihat atraksi penduduk yang berloncatan di dinding kawah, bisa membuat lutut bergetar kalau membayangkan diri sendiri yang melakukannya.

Sebaiknya tidak berlama-lama di bibir kawah agar dapat bergantian dengan pengunjung yang baru mendaki. Saya pun demikian, usai menimbulkan pemandangan kawah dan sekeliling serta tak lupa mengabadikan momen di atas Gunung Bromo, saya kembali turun menapaki anak tangga.
Momen di Puncak Bromo.
Perjalanan turun tentu saja terasa lebih ringan. Namun, matahari yang mulai meninggi ditambah bau khas kotoran kuda tetap membuat perjalanan turun sedikit menantang. Pasir yang diinjak pun menimbulkan debu, jadi ada baiknya menggunakan masker untuk melindungi indra penciuman kita dari bau tak sedap dan debu yang bertebaran.

Dalam perjalanan naik dan turun ke Gunung Bromo, kita dapat menemukan sebuah pura yang digunakan hanya pada saat upacara tertentu saja. Saat itu, saya tidak melihat aktivitas apapun di sana. Ada pula fasilitas toilet basah yang cukup nyaman. Selain itu, tak jauh dari tempat jeep kami terparkir ada deretan warung tenda yang menjual makanan dan minuman. Saya pun beristirahat di sana sambil mengisi perut dengan semangkuk mi instan dan telur. Tak lupa ditambah potongan cabai lokal yang sepertinya terasa lebih pedas.

Setelah bersantap dan rehat sejenak, perjalanan dilanjutkan ke titik berikutnya, yaitu Pasir Berbisik. Dataran berpasir yang pernah dijadikan lokasi syuting film yang dibintangi Christine Hakim dan Dian Sastrowardoyo. Padang pasir yang sangat luas itu nampak indah dengan latar belakang Gunung Bromo. Matahari yang semakin meninggi memberikannya kesan yang gersang dan panas.

Menapaki Pasir Berbisik.
Pagi hampir berganti siang ketika jeep yang kami tumpangi mulai memasuki kawasan padang rumput yang hijau terbentang. Warna hijau rerumputan seakan menyatu dengan hijaunya tebing yang mengelilinginya. Sedikit mengingatkan saya pada film Sounds of Music. Objek menarik lainnya adalah bukit kecil yang menyerupai rumah Teletubbies. Suasana sabana ini memang mirip dengan latar serial televisi anak-anak itu sehingga kerap dikenal sebagai Bukit Teletubbies.

Suasana hijau di Bromo.
Usai mata dimanjakan dengan hijaunya padang rumput, usai pula perjalanan saya berkelana di Gunung Bromo. Sebuah pengalaman yang sangat menakjubkan bisa menyaksikan sunrise yang begitu ajaib dan mengeksplorasi beragam bentang alam yang dimiliki Gunung Bromo dan sekitarnya. Saya rasa destinasi wisata ini wajib ada di bucket list seluruh traveler Indonesia. Orang luar saja mau jauh-jauh datang ke sini dengan membayar biaya masuk yang lebih mahal pula, sungguh sayang jikalau kita yang orang Indonesia tidak pernah berwisata di Bromo yang memiliki panorama yang menakjubkan.

No comments