Salah Jalur

Bangun pagi adalah bagian terberat dalam hari-hariku, khususnya di hari kerja. Alarm sudah berdering tepat pukul 06.33 WIB, namun hasrat tidur masih menggumpal di kepala. Sontak ku matikan alarm itu dan menarik kembali selimut menutupi sekujur tubuh dengan alibi menghangatkan tubuh sebelum harus bergegas mandi dan memulai hari. Apa yang terjadi selanjutnya sudah bisa ditebak, aku terkulai lemas dibuai mimpi melanjutkan tidur semalam. 

Mimpi yang ku alami hari itu lain dari biasanya karena ketidaklaziman alur ceritanya. Di mimpi itu, aku dan beberapa temanku hendak berangkat liburan menggunakan pesawat. Tidak jelas tempat yang ingin dituju, tapi naluriku berkata pesawat menuju Sumatera, vakansi di Belitung mungkin. Yang cukup unik, pesawat yang ku tumpangi bukanlah pesawat komersial pada umumnya yang dilengkapi dengan kursi penumpang. Melainkan pesawat dengan perut kosong melompong bak pesawat militer yang pernah ku lihat di film-film Hollywood. Agak kurang nyaman memang menaiki pesawat yang tak ubahnya mobil pick up berterpal. Singkat cerita lepas landas pesawat berlangsung mulus. Akupun terlelap.

Tak lama aku sadar kembali di dalam mimpi. Situasi berikutnya sungguh tiada terduga. Alih-alih terbang melintasi langit menembus awan, si burung besi malah melaju kencang di jalan raya bersaing dengan mobil-mobil daratan. Aneh memang. Yang lebih aneh adalah bagaimana mungkin pesawat berbodi bongsor itu bisa berjalan mulus di jalan nan ramai tanpa menimbulkan celaka. Yang membuat khawatir adalah sayap pesawat, takut-takut menghantam apapun di bahu jalan. Tapi semuanya seperti baik-baik saja,namanya juga mimpi.

Peristiwa aneh ini telah menarik perhatian polantas yang sedang berjaga. Nampak pula sejumlah warga yang mulai kesal jalannya diterobos kendaraan yang bukan tempatnya. Pesawat itu dikejar sebisanya. Letusan pistol pun tak terelakkan. 

Menyadari situasi semakin tidak menguntungkan karena keberadaannya yang tidak disukai. Pesawat pun mencoba lepas landas kembali ke habitatnya. Namun naas, upaya pilot untuk melarikan diri gagal total. belum terbang tinggi. Pesawat pun terpaksa kembali mendarat. Si pilot digelandang pihak berwajib untuk diperiksa. Beberapa temanku ikut ke kantor yang berwenang untuk mendapatkan kejelasan nasib penerbangan yang gagal di tengah jalan. Aku dan beberapa teman lainnya menurunkan barang dari pesawat, lalu memasukkannya ke sebuah rumah yang ternyata semacam guest house yang disediakan untuk beristirahat sementara. Tak lama teman yang menemui pihak berwajib membawa kabar gembira bahwa penerbangan kami akan diganti. Aku pun bersyukur seraya berharap tidak lagi dinahkodai pilot nan sarap. 

Panasnya mentari mulai menembus kamar, sang surya sudah meninggi menyadarkanku bahwa itu semua hanya mimpi. Aku pun terbangun lalu bergegas bersiap berangkat kerja. Namun, mimpi ini terus menganggu. Adakah makna tersembunyi yang tersimpan di dalamnya. Sungguh menyeramkan apabila aku harus mengalami peristiwa serupa di dunia nyata. 

Aku pun menceritakan semua tentang mimpiku itu kepada salah seorang temanku. Tanggapannya pragmatis, ia menganggapnya hanya sebagai bunga tidur. Mungkin ada benarnya, dalam beberapa situasi terkadang aku terlalu overthink. Lalu, benarkah demikian? Mungkin ada pesan moral yang tersimpan seperti dalam dongeng. Pesawat di jalan raya menggambarkan bahwa seharusnya kita jangan sampai berada di jalur yang salah karena itu dapat membahayakan banyak orang dan membuat kita mendapatkan hukuman. Pilot yang gila itu pun ku rasa merupakan analogi pemimpin pecundang yang hanya mementingkan egonya sendiri. Sudah seharusnya kita berada dalam kendaraan yang berada dalam jalur yang benar dan pengemudi yang sehat lahir batin. Jadi jangan sampai salah jalur! 


Cisauk, September 2016

No comments